
Siang itu matahari tidak begitu garang, sinarnya tertutup awan, sehingga Wonosobo tidak terpanggang. Udara begitu damai anak-anak sperro-sel keluar dari sekolah tepat pukul 12.00.
Bapak Ibu guru segera berkemas, untuk menikmati malam minggu bersama keluarga. Betapa bahagia setiap menjemput hari minggu tiba. Rasanya minggu menjadi hari yang paling berharga, setelah kerja puluhan jam selama enam hari.
Angkutan warna kuning berjejer di pingir jalan depan sekolah, dengan setia menunggu anak-anak sperro-sel, juga tukang es, borjo,somai yang mencari rejeki dari uang saku anak-anak sperro-sel. Terasa mesra dan embun dingin di hati, menyejukkan perasan tugas 1 minggu dapat terlaksana dengan baik.
Ketenangan ini sedikit terusik dengan terdengarnya tangisan seorang bocah, yang tiba-tiba menerobos gendang telinga, sekonyong-konyong Wakil Kepala Sekolah masuk ruang KS tanpa permisi menyambar bantal 2 buah. Ada apa gerangan dan anak siapakah yang merengek. Dengan rasa penasaran MD meluncur ke lobi sekolah. Ternyata ada anak balita yang di gendong oleh bu Sriyati, dan seorang ibu yang tergolek di sofa sedang dirawat oleh bu Alqomah dan pak Haris suami bu Sriyati. Ibu tersebut pingsan saat berjalan di depan sekolah padahal dia menggendong anaknya yang masih balita. Pak Haris yang sedang menjemput Bu Sri tergopoh-gopoh menolong sang ibu tsb dan dibawa ke lobi sekolah.
Sat itu pula bapak ibi guru dan staf TU terharu, tercekat hatinya melihat kondisi sang ibu. Semakin mengiris hati, membuat pilu di hati, sang anak selalu rewel menangis, sementara si ibu masih tergolek lemas tak berdaya.
Beberapa saat setelah dirawat dan diberi minum si ibu dapat duduk dan diajak berdialog. Si ibu baru menjual kalung di Kota Wonosobo seharga1 juta 40 ribu, tiba-tiba didekati seseorang yang tidak dikenalnya dan ditepuk bahunya. Ibu tsb terus mengikuti orang tsb sampai terminal Sawangan ke arah Banjarnegara yang jaraknya<= 20 km.dari kota Wonosbo. Sampai terminal Sawangan, orang tidak dikenal minta ijin kepada sang ibu untuk ke kamar kecil. Ternyata di tungu satu jam orang tak dikenal sudah menghilang entah kemana. Sementara uang hasil penjualan kalung turut di bawa orang tak dikenal tsb. Dalam keadaan bingung dan tidak punya uang si ibu pulang balik ke Wonosobo dari Sawangan berjalan kaki hingga di depan sperro-sel, ibu tsb jatuh pingsan.
Trenyuh hati melihat kondisi si Ibu,tersentuh hati Bapak ibu guru sperro-sel, dengan spontan mengumpulkan uang untuk membantu si Ibu yang malang, agar dapat secepatnya pulang ke kampungnya. Karena Uang penjualan emas yang sudah hilang tersebut rencana untuk selamatan, suaminnya yang sudah meningal dunia. Pak penjaga malam beserta Istri memberi makan siang agar si ibu punya tenaga kembali untuk menggendong anaknya. Bu Setyo tanpa dikomando mencari tas kresek untuk menampung sumbangan dari bapak ibu guru dan karyawan.
Rasa trenyuh hati, rasa simpati, kasihan...........menjadi rasa malu tak terperikan ..malu sekali.
Ibu Dian memberi testimoni dari pengalaman beliau bahwa kejadian ini pernah terjadi di kampungnya. Ini adalah modus yang sudah sering dilakukan oleh orang-orang yang punya kecerdasan mental Negatif. Berpura-pura tertipu, kecelakaan dll, untuk menarik simpati orang-orang agar memberi bantuan.
Betapa malu kami nota bene KS, WKS, Guru dan TU yang setiap hari memberi nasehat kepada anak didik.......masih perlu di didik oleh Alloh SWT.....diberi ujian beberapa menit.
Agar hidup ini lebih hati-hati, jujur dan selalu instropeksi.
====================================================================
mador kawat


Tidak ada komentar:
Posting Komentar