
Demo-laut, Demo-bumi, dan Demo-angin
Heru Yuwono
Dari alam mimpi, para pejuang demokrasi mengigau :”Di manakah gerangan dan masih seberapa jauhkah jarak kota-kota dan desa-desa sejahtera itu ?”
Mimpi tentang kemerdekaan dan kemakmuran di atas jalan demokrasi yang panjang berliku-liku, berlubang dan berbatu; belakangan ini kian samar seperti sedang menuju gua gelap-pekat – yang bahkan mimpi buruk pun tak bisa dikenang lagi. Kota-kota impian dan desa-desa harapan kok semakin lama semakin menggelisahkan. Berharap akan bertemu wajah-wajah penghuninya yang memancarkan cahaya kebahagiaan, ramah, saling menghormati dan menghargai sesama, sehat-sehat, makmur-makmur dan cerdas-cerdas; kok malahan berjumpa dengan seribu-satu rona yang tegang, gampang meledak, dan tampak lebih tua dari umurnya.
Maka diperlukan kata-kata yang menghibur hati : bahwa demokrasi memang masih dalam proses. Bahwa demokrasi memang masih sedang diperjuangkan. Bahwa hujan emas belum saatnya tiba, karena demokrasi masih sedang mengalami ujian dan cobaan. Dan kata-kata itu lama kelamaan menjadi gerimis air mata yang terasa sakit di dada dan terasa pedih di mata.
Seperti kanak-kanak yang tak pernah jera jatuh-bangun ketika sedang belajar berjalan, bangsa Indonesia merasa tak perlu menyerah untuk terus memperjuangkan demokrasi hingga titik darahnya yang penghabisan. Meski telah berulang-kali mendengar pepatah Deng Xiao Ping bahwa “tidak penting kucing berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus”, toh tetap demokrasilah sebagai pilihan tunggal dan agung. Meski laut, bumi, gunung dan angin berkali-kali telah demonstrasi – yang menyebabkan ratusan ribu nyawa melayang – toh tetap demokrasi yang dipercaya sebagai kendaraan menuju nirwana di dunia.
Demokrasi, oh demokrasi, makhluk apakah gerangan dia, hingga Plato – sebagai salah satu penyaksi dan pelaku awal demokrasi – pun meragukannya, kecuali jika demokrasi di bawah pimpinan para filosof dan orang-orang arif bijaksana. Bahkan pun Thomas Carlyle (1795 – 1881) di suatu senja yang dingin di ladang pertanian Craigieburn, Dumfrieshire, Scotland selatan, ngungun dan mengeluh :”Zaman memanggil-manggil ? Ya, kita tahu zaman cukup keras memanggil-manggil orang-besarnya, tapi tak ada yang menyahut. Orang-besarnya tak ada. Tuhan tak mengutusnya. Zaman menjadi kacau dan rusak karena orang-besar tak muncul ketika dipanggil.”
Demokrasi Ciareuteun Kuno
Berkunjunglah ke Ciareuteun, sebuah desa yang terletak di kecamatan Ciampea, kabupaten Bogor. Di desa yang kurang dikenal itu, ada beberapa petilasan (maqam) dinasti Purnawarman – yang memerintah kerajaan di tlatah Pasundan awal, sekitar 150 – 300 masehi. Ptolomeus dari Iskandaria menyebut kerajaan itu sebagai negeri perak. Dapat dianggap kerajaan tertua atau tua di Nusantara. Kalau beruntung, Anda akan bisa berkomunikasi dengan masa silam. Meski agak samar karena akan terdengar bahasa Sansekerta kuno – terkadang bahkan bahasa Urdu – namun sepotong dua potong Anda akan menangkap isyarat tentang suprastruktur dan model pemerintahan di tlatah Pasundan awal. Sebaiknya para capres dan cawapres perlu mengunjungi petilasan-petilasan di Ciareuteun dalam konteks menghormati orang tua (birul walidain) sambil menangkap kearifan masa silam. Jangan gampang menuduh takhayul dan klenik untuk hal-hal semacam itu, karena merekalah penghulu para raja di pulau Jawa, bahkan pendiri Majapahit, Raden Wijaya itu, adalah berasal dari tlatah Sunda.
Mungkin Anda bingung dan tertawa geli membaca alinea di atas, dan menuduh penulisnya sudah mulai kurang waras otaknya. Tapi alinea di atas memang dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa demokrasi tak pernah dikenal oleh nenek moyang kita. Juga oleh agama-agama yang dipeluk oleh rakyat Indonesia baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Budha. Demokrasi sesungguhnya tak pernah bisa difahami oleh rakyat Indonesia dalam maknanya secara esoteris (esensial), meski mungkin saja bisa difahami namun hanya sebatas pemahaman eksoteris (lahiriah atau tekstual). Bahkan seorang profesor dan doktor politik sekali pun, asal orang Indonesia asli, tak akan pernah mampu sampai pada penghayatan esoteris atas apa itu demokrasi. Penghayatan esoteris atas sebuah kata atau makna hanya mungkin jika kata itu adalah bahasa ibu (lingua franca). Karena demokrasi tak pernah bisa difahami (secara esoteris), maka akan sangat sulit demokrasi itu mencapai keberhasilan di Indonesia.
Tetangga-tetangga Indonesia di Asia, mulai dari Jepang, Cina, Taiwan, Vietnam, Thailand, hingga Malaysia dan Singapura, tak pernah bersungguh-sungguh dalam menyelenggarakan demokrasi. Filipina yang mencoba – dengan pongahnya – menyelenggarakan demokrasi ala Amerika, bisa kita saksikan betapa buruk hasil yang diperolehnya.
Mereka yang berpura-pura menyelenggarakan demokrasi, tapi bersungguh-sungguh dalam memajukan bangsa dan kesejahteraan rakyatnya itulah yang perlu ditiru Indonesia. Mengutip renungan Cak Nur (Nurcholis Madjid) yang mempertanyakan, mengapa Turki begitu lamban maju sementara Jepang begitu pesat, meski starting pointnya relatif sama, dihitung sejak kehancuran Nagasaki-Hiroshima. Cak Nur berkata :”Karena Kemal Attaturk telah melakukan kesalahan fatal, yaitu telah memutuskan rantai komunikasi antar generasi dengan mengganti secara revolusioner bahasa yang digunakan generasi lama dengan bahasa Turki sekarang, sehingga generasi muda Turki tidak bisa belajar khazanah-khazanah ilmu pengetahuan dan kearifan masa silam, sementara konsistensi Jepang menggunakan bahasa dan huruf Kanji, tetap menggairahkan generasi baru untuk bisa membaca dan belajar karya-karya pendahulunya berabad-abad yang silam.” Indonesia ? Bahkan huruf Ajisaka (hana caraka itu), telah dilupakan sejak puluhan tahun yang lalu dan di museum pun mungkin sudah terkoyak dimakan rayap.*****
Heru Yuwono
Dari alam mimpi, para pejuang demokrasi mengigau :”Di manakah gerangan dan masih seberapa jauhkah jarak kota-kota dan desa-desa sejahtera itu ?”
Mimpi tentang kemerdekaan dan kemakmuran di atas jalan demokrasi yang panjang berliku-liku, berlubang dan berbatu; belakangan ini kian samar seperti sedang menuju gua gelap-pekat – yang bahkan mimpi buruk pun tak bisa dikenang lagi. Kota-kota impian dan desa-desa harapan kok semakin lama semakin menggelisahkan. Berharap akan bertemu wajah-wajah penghuninya yang memancarkan cahaya kebahagiaan, ramah, saling menghormati dan menghargai sesama, sehat-sehat, makmur-makmur dan cerdas-cerdas; kok malahan berjumpa dengan seribu-satu rona yang tegang, gampang meledak, dan tampak lebih tua dari umurnya.
Maka diperlukan kata-kata yang menghibur hati : bahwa demokrasi memang masih dalam proses. Bahwa demokrasi memang masih sedang diperjuangkan. Bahwa hujan emas belum saatnya tiba, karena demokrasi masih sedang mengalami ujian dan cobaan. Dan kata-kata itu lama kelamaan menjadi gerimis air mata yang terasa sakit di dada dan terasa pedih di mata.
Seperti kanak-kanak yang tak pernah jera jatuh-bangun ketika sedang belajar berjalan, bangsa Indonesia merasa tak perlu menyerah untuk terus memperjuangkan demokrasi hingga titik darahnya yang penghabisan. Meski telah berulang-kali mendengar pepatah Deng Xiao Ping bahwa “tidak penting kucing berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus”, toh tetap demokrasilah sebagai pilihan tunggal dan agung. Meski laut, bumi, gunung dan angin berkali-kali telah demonstrasi – yang menyebabkan ratusan ribu nyawa melayang – toh tetap demokrasi yang dipercaya sebagai kendaraan menuju nirwana di dunia.
Demokrasi, oh demokrasi, makhluk apakah gerangan dia, hingga Plato – sebagai salah satu penyaksi dan pelaku awal demokrasi – pun meragukannya, kecuali jika demokrasi di bawah pimpinan para filosof dan orang-orang arif bijaksana. Bahkan pun Thomas Carlyle (1795 – 1881) di suatu senja yang dingin di ladang pertanian Craigieburn, Dumfrieshire, Scotland selatan, ngungun dan mengeluh :”Zaman memanggil-manggil ? Ya, kita tahu zaman cukup keras memanggil-manggil orang-besarnya, tapi tak ada yang menyahut. Orang-besarnya tak ada. Tuhan tak mengutusnya. Zaman menjadi kacau dan rusak karena orang-besar tak muncul ketika dipanggil.”
Demokrasi Ciareuteun Kuno
Berkunjunglah ke Ciareuteun, sebuah desa yang terletak di kecamatan Ciampea, kabupaten Bogor. Di desa yang kurang dikenal itu, ada beberapa petilasan (maqam) dinasti Purnawarman – yang memerintah kerajaan di tlatah Pasundan awal, sekitar 150 – 300 masehi. Ptolomeus dari Iskandaria menyebut kerajaan itu sebagai negeri perak. Dapat dianggap kerajaan tertua atau tua di Nusantara. Kalau beruntung, Anda akan bisa berkomunikasi dengan masa silam. Meski agak samar karena akan terdengar bahasa Sansekerta kuno – terkadang bahkan bahasa Urdu – namun sepotong dua potong Anda akan menangkap isyarat tentang suprastruktur dan model pemerintahan di tlatah Pasundan awal. Sebaiknya para capres dan cawapres perlu mengunjungi petilasan-petilasan di Ciareuteun dalam konteks menghormati orang tua (birul walidain) sambil menangkap kearifan masa silam. Jangan gampang menuduh takhayul dan klenik untuk hal-hal semacam itu, karena merekalah penghulu para raja di pulau Jawa, bahkan pendiri Majapahit, Raden Wijaya itu, adalah berasal dari tlatah Sunda.
Mungkin Anda bingung dan tertawa geli membaca alinea di atas, dan menuduh penulisnya sudah mulai kurang waras otaknya. Tapi alinea di atas memang dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa demokrasi tak pernah dikenal oleh nenek moyang kita. Juga oleh agama-agama yang dipeluk oleh rakyat Indonesia baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Budha. Demokrasi sesungguhnya tak pernah bisa difahami oleh rakyat Indonesia dalam maknanya secara esoteris (esensial), meski mungkin saja bisa difahami namun hanya sebatas pemahaman eksoteris (lahiriah atau tekstual). Bahkan seorang profesor dan doktor politik sekali pun, asal orang Indonesia asli, tak akan pernah mampu sampai pada penghayatan esoteris atas apa itu demokrasi. Penghayatan esoteris atas sebuah kata atau makna hanya mungkin jika kata itu adalah bahasa ibu (lingua franca). Karena demokrasi tak pernah bisa difahami (secara esoteris), maka akan sangat sulit demokrasi itu mencapai keberhasilan di Indonesia.
Tetangga-tetangga Indonesia di Asia, mulai dari Jepang, Cina, Taiwan, Vietnam, Thailand, hingga Malaysia dan Singapura, tak pernah bersungguh-sungguh dalam menyelenggarakan demokrasi. Filipina yang mencoba – dengan pongahnya – menyelenggarakan demokrasi ala Amerika, bisa kita saksikan betapa buruk hasil yang diperolehnya.
Mereka yang berpura-pura menyelenggarakan demokrasi, tapi bersungguh-sungguh dalam memajukan bangsa dan kesejahteraan rakyatnya itulah yang perlu ditiru Indonesia. Mengutip renungan Cak Nur (Nurcholis Madjid) yang mempertanyakan, mengapa Turki begitu lamban maju sementara Jepang begitu pesat, meski starting pointnya relatif sama, dihitung sejak kehancuran Nagasaki-Hiroshima. Cak Nur berkata :”Karena Kemal Attaturk telah melakukan kesalahan fatal, yaitu telah memutuskan rantai komunikasi antar generasi dengan mengganti secara revolusioner bahasa yang digunakan generasi lama dengan bahasa Turki sekarang, sehingga generasi muda Turki tidak bisa belajar khazanah-khazanah ilmu pengetahuan dan kearifan masa silam, sementara konsistensi Jepang menggunakan bahasa dan huruf Kanji, tetap menggairahkan generasi baru untuk bisa membaca dan belajar karya-karya pendahulunya berabad-abad yang silam.” Indonesia ? Bahkan huruf Ajisaka (hana caraka itu), telah dilupakan sejak puluhan tahun yang lalu dan di museum pun mungkin sudah terkoyak dimakan rayap.*****


Tidak ada komentar:
Posting Komentar