Utang, Klangenan dan Tepuk Tangan Heru Yuwono Mungkin karena para ekonom dan pebisnis sangat taat pada doktrin "jangan pakai modal sendiri untuk berbisnis, pakailah modal bank alias modal utangan", maka utang menjadi keniscayaan. Maka, Haruhiko Kuroda, presiden Bank Pembangunan Asia (ADB) itu, bolejadi memang tak pernah benar-benar faham, sebab apakah pemerintah Indonesia terus menambah utang-utangnya ke lembaga-lembaga keuangan internasional, termasuk ke ADB. Juga sebagian besar rakyat Indonesia tidak tahu persis, apakah inisiatif utang itu memang berasal dari keadaan sangat butuh dan darurat, ataukah sejenis hobby atau klangenan yang kemudian berubah menjadi nyandu – melestarikan tradisi dari para pendahulunya. Untuk golongan manusia yang masih memiliki ‘cadangan’ sejumput rasa malu dan harga diri, utang adalah siksaan lahir dan batin. Utang bagaikan roh jahat gentayangan yang menyebabkan pikiran sangat sulit ditentramkan, tidur tak bisa nyenyak dan makan-minum terasa onak dan duri. Namun, rasa prihatin seperti itu tak pernah kita dengar dari para pemimpin pemerintahan, baik pada saat perundingan-perundingan bilateral dan multilateral, maupun pada masa yang lebih lama setelah pulang kampung ke negerinya. Mungkin rasa prihatin dan tersiksa hanyalah untuk mereka yang cengeng dan kampungan. Ada suatu masa, di mana hasil rundingan, entah di Paris, London atau sekedar di Nairobi mendapatkan apresiasi begitu tinggi disertai tepuk tangan sangat lama, ketika terdengar kabar bahwa para delegasi telah berhasil menggondol utangan. Semakin besar utang yang digondol, semakin lama pula tepuk tangan, salaman dan pelukan yang diterimanya. Tak perlu disinggung dan dibahas berapa besar komisi yang diperolehnya. Para pakar psikologi kebingungan mencermati fenomena anomali yang berlangsung bertahun-tahun di Indonesia. Sesuatu yang seharusnya disikapi dengan rasa prihatin dan kalau perlu rasa haru disertai linangan air mata, malahan disambut gembira, sorak-sorai, seperti orang baru menang togel. Dan di hari-hari terakhir ini, pertemuan di Nusa Dua Bali itu pun tak terdengar ada rasa duka dan haru atas ramalan-ramalan suram yang masih akan terjadi di negara-negara sedang berkembang. Tak pernah terdengar isak-tangis para delegasi atas penderitaan puluhan juta saudara-saudaranya di negaranya masing-masing. Justru selalu terpampang wajah-wajah cerah, berseri-seri, dan senyum-senyum lebar dari para delegasi dalam bungkus pakaian resmi antar bangsa, berkali-kali salaman di depan para fotografer untuk diabadikan dan segera disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Di ruang-ruang sidang sebentar-sebentar terdengar tepuk tangan, dan gelas-gelas piala cantik saling beradu dan "cheers !!...untuk penghapusan kemiskinan di muka bumi". Dan orang-orang miskin di kampung-kampung kumuh perkotaan, di pelosok-pelosok desa, juga mereka yang di perempatan-perempatan lampu-merah kota-kota besar, masih terus meratapi dan menanti jawaban dari pertanyaan "apakah hari ini masih bisa makan ?". Dulu, Eyang Gunnar Myrdal menelorkan teori trickle down effect, sebuah pendekatan pembangunan yang menganjurkan : "bikin kue besar dulu, nanti toh akan ada rontokan yang jatuh dan bertaburan di sekitar kue itu". Dan atas keyakinan itu kredit-kredit likuiditas disalurkan ke pengusaha-pengusaha bertalenta tinggi. Tapi sial, sebelum wadah kue penuh dan luber, orang sudah membuat wadah baru, sehingga tak pernah ada kue yang rontok dan menghujani demi kemakmuran di sekitarnya. Hujan rontokan kue tak pernah terjadi, sementara utang melayang entah ke mana dan kemiskinan tetap menjadi mimpi buruk. Di alam kubur, Gunnar Myrdal pun termehek-mehek. Kini ‘teori menetes ke bawah’ sudah agak lama dilupakan orang. Mungkin perlu pendekatan yang agak kiri dan berbau sosialisme, center pheriphery Paul Baran atau Sritua Arif boleh juga dicoba. Maka, poverty alleviation, income generating, institutional strengthening langsung menukik ke masyarakat miskin di kota-kota dan desa-desa dengan empowerment sebagai metodologi utamanya. Dan itulah formula ampuh yang masih terus digunakan dalam proposal-proposal mencari utangan ke lembaga-lembaga keuangan internasional. Bahwa utangan itu kemudian dipergunakan untuk memperkuat infrastruktur tujuan-tujuan politik tertentu melalui BLT-BLT, misalnya, sebagian besar rakyat Indonesia toh tidak peduli-peduli amat. Dan tahun depan rapat lagi, mungkin di Paris atau Amsterdam, membahas utang-utang baru yang akan menambah tumpukan utang negara – untuk kemudian diwariskan ke anak cucu. Semoga para anak-cucu kelak punya alibi untuk tidak perlu membayar utang-utang itu.***** Bogor, 6 Mei 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar